Perkembangan Islam di Negeri Sakura

Posted by al Luky Sabtu, 24 November 2012 1 komentar
Masjid Gifu di Jepang

Tak ada catatan yang pasti kapan Islam pertama kali masuk ke Jepang. Meski agak terlambat mengenal Islam, kini jumlah Muslim di Jepang semakin bertambah. Tragedi 11 September 2001 menjadi momentum penting banyaknya orang Jepang yang masuk Islam.

Dekan Fakultas Studi Islam di Universitas Takushoku Muto, menyatakan bahwa sikap toleran dan cara berpikir logis yang di miliki oleh masyarakat Jepang menjadikan mereka begitu dekat dengan karakter dan nilai Islam.

“ Terbukti dengan jumlah umat Islam di Jepang yang kian hari kian banyak”, tandas Tayeb El-Mokhtar Muto, yang kerap di sapa Muto, seperti di kutip Islamoline.

Menurut Muto, semua hal negatif yang di alamatkan ke Islam, terutama pasca tragedi 11 September 2001, tidak berhasil mengambil hati publik masyarakat Jepang. Yang terjadi justru sebaliknya, semua hal negatif itu seakan menjadi perantara bagi Islam untuk menjadi pusat perhatian banyak orang.

“ Jumlah orang yang masuk Islam semakin meningkat, baik di Jepang maupun negara-negara lain, terutama setelah tuduhan yang di tujukan kepada Islam sebagai agama yang menganjurkan kekerasan, pembunuhan, huru-hara dan segala macam bentuk terorisme lainnya,” ujar Muto

Keberadaan Islam di Jepang bisa di bilang baru. Menurut data Islamic Center Jepang, Islam sudah ada di Negeri Matahari Terbit itu sejak 1891. Namun data lain menyebutkan sejak 1887. Masjid tertua di Jepang di bangun pertama kali di Kobe tahun 1935 dan kemudian Masjid Tokyo pada 1938.

Bisa di katakan juga, Jepang termasuk negara yang terlambat mengenal Islam, di bandingkan Cina misalnya yang sejak awal kehadiran Islam sudah di datangi para sahabat Nabi, dan sudah banyak penduduknya yang memeluk Islam.

Bicara tentang dakwah Islam di Jepang, memang tak banyak literature yang di dapat. Tak heran, hingga saat ini, belum jelas benar apa yang menyebabkan bangsa Jepang terlambat mengenal dan memeluk agama Islam.

Ada yang mengatakan, kebijakan isolasi diri selama 200 tahun lebih yang di mulai pada pertengahan abad ke-17, membuat Jepang tidak mengenal Islam. Tapi apakah hal ini menjadi penyebab utamanya belum jelas benar, karena Islam sendiri sudah ada sejak abad ke-8 Masehi.

Baru pada zaman Restorasi Meiji tahun 1875, literature-literature tentang Islam yang berasal dari Eropa dan Cina mulai di terjemahkan dan masuk ke Jepang.

Salah satu sumber lain menyebutkan bahwa bangsa Jepang mengenal Islam lewat bangsa Turki. Kisahnya bermula dari peristiwa yang terjadi pada tahun 1890, ketika sebuah kapal Turki bernama Ertogrul karam di perairan Jepang. Konon, dari 600-an awak kapal, hanya 69 dari mereka yang selamat.

Pemerintah dan rakyat Jepang bersama-sama berusaha menolong para penumpang yang selamat dan mengadakan upacara penghormatan bagi arwah penumpang yang meninggal dunia. Peristiwa ini menjadi pencetus di kirimnya utusan pemerintah Turki ke Jepang pada tahun 1891.

Hubungan baik dengan Turki itu juga membawa kemenangan bagi Jepang dalam perang melawan Rusia tahun 1904. Setelah peristiwa itu, sekitar tahun 1900-an untuk pertama kalinya warga muslim Jepang pergi ke Mekkah guna menunaikan ibadah haji. Sejak itu Islam di kenal luas di Jepang.

Selanjutnya, di tengah politik ekspansi Jepang di Asia pada Perang Dunia II, orang Jepang mulai tahu bahwa banyak rakyat Asia yang memeluk Islam. Dari situ muncul kebutuhan lebih besar untuk melakukan penelitian tentang Islam secara lebih dalam. Maka di bentuklah lembaga-lembaga, organisasi maupun perkumpulan , yang mengkaji Islam, bahkan menerbitkan berbagai majalah dan buku tentang Islam.

Sayangnya, pemerintah Jepang pada masa itu memandang Islam tidak sesuai dengan asas militer Jepang dan Shintoisme (agama asal Jepang) yang banyak di peluk oleh penduduk Jepang. Karena itu, dakwah Islam pada masa itu tetap tidak di perbolehkan.

Setelah perang Dunia II berakhir, dan setelah banyak negara di Asia dan Afrika meraih kemerdekaannya, mulailah bermunculan banyak negara Islam di panggung dunia. Dari sini, hubungan Jepang dengan negara-negara Islam semakin tak terhindarkan, terutama dengan negara-negara Islam di  Timur Tengah sebagai negara penghasil minyak. Jepang pun makin dekat dengan lingkungan negara-negara Islam.

Menurut Tayeb El-Mokhtar Muto, kebebasan beragama yang telah di nkmati oleh masyarakat Jepang selama ini punya andil yang besar bagi di terimanya Islam di Jepang. Lebih dari itu, budaya masyarakat Jepang yang toleran dan lebih mengutamakan akal dan logika memudahkan kebenaran Islam di terima.

Sebagai modal untuk berdakwah, Muo meminta kepada semua yayasan Islam dunia,  seperti Al-Azhar, Dewan Tinggi Urusan Islam di Kairo, Rabithah al-Alam al-islami, untuk menyediakan buku-buku dengan metode yang mudah dan sederhana dalam berbagai bahasa dunia.

Kini umat Muslim di Jepang, khususnya Jepang tengah, makin mudah menunaikan ibadahnya dengan selesainya pembangunan Masjid Gifu di kota Gifu, awal 2009, termasuk rencana pendirian pusat budaya dan sekolah Islam Internasional pertama di Negeri Sakura tersebut.

Jumlah masjid di Jepang sendiri masih terkonsentrasi di kota-kota besar seperti Tokyo, Kobe, Nagoya, Osaka, Yokohama, Hiroshima dan Hokkaido.

Peresmian Masjid Gifu di hadiri oleh Imam Masjidil Haram, Makkah, Syekh salih ibn Humaid, yang juga meresmikan penggunaan masjid itu untuk public Muslim di Jepang.

Menurut Ketua working  Group for Technology Transfer (WGTT), sebuah LSM Indonesia di Jepang yang ikut hadir dalam acara tersebut, Fauzy Ammary, sejumlah duta besar negara-negara Islam, seperti dari Saudi Arabia, Irak, Iran, Mesir, Oman, Afghanistan, Syria, dan Pakistan juga hadir.

Saat ini di Jepang belum ada satu pun sekolah islam yang permanen baik di tingkat sekolah dasar maupun menengah. Pengajaran dan pendidikan Islam di Jepang selam ini masih banyak di lakukan di masjid-masjid yang di bangun oleh kaum pendatang Muslim.

Gifu sendiri merupakan salah satu kantong Muslim terbesari di Provisnsi Aichi, yang terkenal sebagai kawasan industry otomotif Jepang. “ Proyek pembangunan masjid ini menelan biaya 129 juta yen atau setara 1,1 Juta dolar AS,” kata Fauzy Ammari.

Menurut Fauzy, Masjid Gifu akan menjadi pusat perluasan syiar Islam di kawasan Jepang Tengah. Luas bangunan Masjid Gifu 351 meter persegi, dan akan semakin di perluas dengan sekolah Islam dan pusat budaya, sehingga dapat mendukung dan melengkapi kegiatan penyebaran pusat Syiar Islam yang di lakukan di Jepang.

Warga Jepang asli yang menjadi Muslim, munurut Imam Masjid Jami’ Tokyo, Ensari Yentruk, di perkirakan mencapai 10 ribu orang. Sedang total warga Jepang yang Muslim kurang lebih mencapai 100 ribu orang. Meski di akui tidak ada data yang akurat soal ini, Insya Allah Muslim di Jepang akan terus bertambah
TERIMA KASIH ATAS KUNJUNGAN SAUDARA
Judul: Perkembangan Islam di Negeri Sakura
Ditulis oleh al Luky
Rating Blog 5 dari 5
Semoga artikel ini bermanfaat bagi saudara. Jika ingin mengutip, baik itu sebagian atau keseluruhan dari isi artikel ini harap menyertakan link dofollow ke http://alluky.blogspot.com/2012/11/perkembangan-islam-di-negeri-sakura.html?m=0. Terima kasih sudah singgah membaca artikel ini.

1 komentar:

Ricky Pratama mengatakan...

Saya sedang menjalankan eksperimen Plus one club. Jika tertarik untuk ikut serta harap kunjungi http://plusoneclub.blogspot.com/2012/12/google-plus-one-experiment-2012.html untuk info selengkapnya.

Poskan Komentar

Panduan blog dan SEO support Jual Online Baju Wanita - Original design by Bamz | Copyright of Sakura Islam.