Menciptakan Suasana Kepercayaan Dengan Menepati Janji

Posted by al Luky Sabtu, 02 Februari 2013 0 komentar
Sebagaimana kita ketahui, Insya Allah adalah lafaz yang di ucapkan seorang muslim kepada lawan bicaranya ketika hendak berjanji melakukan sesuatu atau memberi jawaban atas sesuatu yangi akan terjadi, dll.

Namun hal yang di tekankan bagi seorang muslim ketika berjanji adalah berusaha dengan segenap upaya untuk merealisasikan janji tersebut. Misalnya, seorang mahasiswa yang di tanyai oleh sahabatnya tentang nilai IPnya semester ini, dan dia menjawabnya “Insya Allah IP saya baik”. Dalam hal ini, dia sadar bahwa tidak ada yang menjamin kedepannya ia akan senantiasa berusaha untuk mendapatkan nilai yang bagus serta bertawakal kepada Allah atas apa yang telah ia lakukan. Mungkin saja ada hal yang akan membuatnya melupakan semua hal itu, karena rencana Allah adalah sebuah rahasia yang tidak seorangpun mengetahuinya.

Insya Allah di ucapkan apabila berjanji, ia memiliki makna bahwa janji tersebut pasti akan di kerjakan apabila tidak terdapat suatu halangan. Seseorang yang sudah benar-benar paham dengan makna kalimat ini akan berusaha dengan semampunya untuk memenuhi janji tersebut, terkecuali keadaanya yang sudah tak memungkinkan lagi. Hal ini karena pada saat janji telah di ucapkan, bukan cuman kepada manusia saja kita mempertanggung jawabkannya melainkan juga kepada Allah swt.

Kita melihat dalam kehidupan sehari-hari. Betapa kalimat Insya Allah ini banyak di plintir oleh orang. Lafaz Insya Allah sudah di salah artikan sebagai ucapan untuk menolak janji secara sopan dan santun.. Sehingga acap kali ia ingin menolak janjinya secara halus kepada orang lain ia mengucapkan Isya Allah.

Inilah yang membuat lafaz “Insya Allah” mengandung konotasi buruk bagi si penerima janji. Terlebih lagi tidak sedikit  yang salah mengartikannya, maka jadilah kalimat Insya Allah ini mendapat konotasi yang buruk dalam pandangan banyak orang.

Padahal menepati janji adalah lambang Islam yang sangat di butuhkan kepadanya.  Dan al-quran berulang-ulang, menyebutnya, di pandang sebagai tanda iman, tanda kemanusiaan dan tanda ihsan.

Ia satu keharusan untuk menciptakan suasana kepercayaan dan ketentraman dalam hubungan pribadi, hubungan jamaah, hubungan bangsa-bangsa dan hubungan internasional yang di mulainya dengan penunaian janji dengan Allah.

Tanpa lambing ini, tiap-tiap pribadi tidak tentram, tidak ada kepastian janji tidak tenang mengikat janji dan tidak percaya kepada manusia.

Sadar atau tidak, terkadang Allah membuktikan kekuasaannya kepada manusia.  Lihat saja, ketika berjanji dengan mengucapkan “Insya Allah” kepada seseorang, Allah memberikan kemudahan sehingga apa yang telah kita janjikan bisa terlaksana. Dan ketika kita berjanji dengan menggunakan logika (memprediksikan segala sesuatu sedemikian rupa sehingga kemungkinan terlaksananya 100%) tanpa mengucapkan Insya Allah, ternyata malah tidak terlaksana.

Pada hakikatnya memang manusia ini adalah makhluk yang pelupa. Ia lupa bahwa apa yang telah ia rencanakan belum tentu terlaksana tanpa adanya izin dari Allah swt.

Terakhir sebagai penutup artikel ini, kesimpulannya adalah bahwa dalam menunaikan janji kepada sahabat ataupun kepada musuh, Islam telah sampai ke puncak yang belum pernah sampai kesana manusia dalam seluruh sejarahnya dan tidak akan sampai kesana kecuali dengan petunjuk Islam.
Wallahua’lam bisawab
TERIMA KASIH ATAS KUNJUNGAN SAUDARA
Judul: Menciptakan Suasana Kepercayaan Dengan Menepati Janji
Ditulis oleh al Luky
Rating Blog 5 dari 5
Semoga artikel ini bermanfaat bagi saudara. Jika ingin mengutip, baik itu sebagian atau keseluruhan dari isi artikel ini harap menyertakan link dofollow ke http://alluky.blogspot.com/2013/02/menciptakan-suasana-kepercayaan-dengan-menepati-janji.html. Terima kasih sudah singgah membaca artikel ini.

0 komentar:

Posting Komentar

Panduan blog dan SEO support Jual Online Baju Wanita - Original design by Bamz | Copyright of Sakura Islam.