Sejarah Hidup Imam Al ghazali radiallahu anhu

Posted by al Luky Minggu, 18 November 2012 0 komentar
Dia adalah Imam Abu Hamid Muhammad bin Ahmad al-Ghazali yang di juluki Hujjatul Islam. Beliau ulama terkenal dari Thus yang bermazhab Syafi’i. Imam besar ini memiliki peran yang sangat besar dalam memajukan peradaban Islam. Keharuman namanya mampu mencerahkan hati manusia dan menghidupkan jiwanya. Kebesarannya menjadi kebanggaan intelektual Islam dan mampu menggetarkan dunia penulisan. Mendengarkan kehebatannya dapat menundukkan suara-suara dan kepala. Beliau ini lahir di Thus pada tahun 450. Dan ayanya  seoarang pemintal wol kemudian menjualnya di kedainya.

Dasar-dasar ilmunya yang pertama di peroleh di Thus, kemudian ia mengembara ke Naisabur dan belajar berbagai macam ilmu kepada Imam Haraiman, Abu al-Ma’ali al-Juwaini. Beliau di kenal sebagai pencari ilmu yang sangat tekum dan ulet sehingga dalam waktu yang singkat sudah menguasai banyak ilmu. Bahkan, di zaman gurunya masih hidup, belau sudah menjadi perhatian para ulama dan rujukan, di samping itu beliau juga telah menyusun berbabagai karangan.

Dalam perkembangan berikutnya, Ghazali ra. sempat bertemu Perdana Menteri Nizamul Muluk dann mendapatkan penghormatan yang luar biasa darinya. Pertemuan yang mengesankan itu mendorong Perdana Menteri untuk lebih aktif menghadiri pengajian-pengajian Ghazali, baik dalam majelis pribadinya maupun di majelis umum. Dalam berbagai kesempatan tersebut, Perdana Menteri menyaksikan kehebatan Ghazali dalam mengajarkan ilmunya, argumen-argumennya yang rasional, ketangkasannya yang melipat para penyanggahnya, dan keunggulan-keunggulan yang lain. Kenyataan itu lambat laun memashurkan nama Ghazali, sering di sebut-sebut para pengelana, dan bahkan menjadi idola masyarakat. Fakta-fakta inilah yang mendorong Perdana Menteri untuk menyerahkan pengelolaan Perguruan Tinggi Nizamiyah, Iraq, kepada Ghazali ra. Peristiwa bersejarah yang tejadi pada tahun 480 H ini otomatis semakin mengundang simpat dan rasa kagum penduduk Iraq, sehingga kedudukan Ghazali di mata mereka semakin tinggi.

Kemudian pada tahun 488 H Ghazali meninggalkan semua kedudukan dan apa yang di perolehnya selama menjadi kiblat para ulama. Beliau pergi meninggalkan tempat keramaian dan menjalani cara hidup Zuhud. Pertama, beliau berangkat haji, kemudian menuju Syam dan menetap beberapa tahun di kota Damaskus. Di kota ini, beliau menginap di salah satu sudut kamar di Masjid Jami’ untuk melakukan kontemplasi dan merenungkan kembali berbagai macam ilmu yang selama ini di pelajarinya, setelah berlangsung cukup lama tinggal di Masjid Jami’, beliau pindah ke Baitul Maqdis dan di tempat baru ini waktunya lebih banyak di habiskan untuk beribadah dan menziarahi majelis-majelis pertemuan, kemudian pergi ke Mesir dan menetap di Iskandariyah dalam waktu yang cukup lama. Sehabis di Mesir, beliau kembali ke kampung halamannya, Thus, dan menyendirii di kamar pribadinya, dan banyak menyusun kitab-kitab yang sangat bermanfaat dalam berbagai bidang.

Diantara kitab-kitab beliau adalah al-Wasith, al-Basith, al-Wajiz dan al-Khulashah dalam ilmu fiqih. Sementara Ihya’ ‘Ulumuddin adalah kitab utamanya yanga sangat berharga. Al-Mustashfa adalah kitab ushul fiqihnya. Kitab-kitab ini di susun pada tahun 503 H. Selain itu, juga masih banyak kitab karangannya, di antaranya Tahafut al-Falasifah, Mahakku al-Nazar, Mi’yar al-‘Ilmi, al-Maqshad al-Asna fi Sharh Asma’Allah al-Husna, Mishkat al Anwar, al-Munqidz Minal Dhalal, al-Iqtishad fi al-I’tiqad ,’Ulum al-Nazar, Ma’arij al-Qudus fi Ahwal al-Nafs, Maqashid al-Falasifah, Tanzih al-Qur’an ‘An al-Bathiniyah, al-Tibar al-Masbuk fi Nashihah al Muluk, Minhaj al-‘Abidin, dan Yaqut al-Ta’wil fi Tafsir al-Tanzil. Yang terakhir ini adalah kitab tafsir dalam 40 jilid.

Setelah itu,  beliau kembali lagi ke Naisabur dan mengajar di Perguruan Nizamiyah. Namun, tidak berapa lama, beliau kembali pulang ke rumahnya di Thus dan membuat satu titik kecil untuk menjalani hidup sufi. Di samping kesibukkan utama ini, beliau juga masih sempat menyisakan waktunya untuk menngajar. Sementara sebagian besar waktunya di bagi untuk melakukan kegiatan-kegiatan yang mulia, seperti mengkhatamkan Al-Qur’an, menghadiri majelis sufi, dan mengajar. Aktiviatas-aktivitas ini di lakukan terus hhingga beliau kembali ke pangkuan Tuhannya pada hari Senin, tanggal 14 Jumadil Akhir, tahun 505 H di Thus.

Semoga Allah selalu merahmatinya.
TERIMA KASIH ATAS KUNJUNGAN SAUDARA
Judul: Sejarah Hidup Imam Al ghazali radiallahu anhu
Ditulis oleh al Luky
Rating Blog 5 dari 5
Semoga artikel ini bermanfaat bagi saudara. Jika ingin mengutip, baik itu sebagian atau keseluruhan dari isi artikel ini harap menyertakan link dofollow ke http://alluky.blogspot.com/2012/11/profil-imam-al-ghazali-ra.html. Terima kasih sudah singgah membaca artikel ini.

0 komentar:

Posting Komentar

Panduan blog dan SEO support Jual Online Baju Wanita - Original design by Bamz | Copyright of Sakura Islam.