Tujuh Ulama yang Sering Menjadi Rujukan dalam Berfatwa

Posted by al Luky Rabu, 12 Desember 2012 0 komentar
Para tabi’in tak pernah main-main dalam membuat fatwa. Mereka sangat terjerumus dalam perkara” berkata tanpa ilmu”. Tak heran biila pada masa itu jumlah mufti (pemberi fatwa) tak banyak meskipun jumlah ulama sangat banyak.
Tercatat ada tujuh ulama yang sering menjadi rujukan dalam berfatwa. Mereka semua berdomisili di Madinah. Ketujuh ulama ini sering di sebut dalam kitab-kitab klasik dengan fuqaha assab’ah ( tujuh ahli fiqh).
Sosok mereka memang tidak sepopuler empat imam mazhab. Tapi dari segi keilmuwan mereka terbilang istimewa. Salah satu keistimewaannya adalah mereka menimba ilmu langsung dari ulama di kalangan sahabat Rasulullah saw.

Said bin Musayyab
Ia ahli fiqh yang sangat di segani. Banyak ulama di zamannya yang takjub dengannya. Bahkan sahabat sekaliber Umar sendiri mengakui kesempurnaan ilmunya. Tak heran jika ia sering di sebut dengan Syaikhul Fuqaha ( Syaikh-nya para ahli fiqh).
Ulama yang juga menantu Abu Hurairah ini terkenal dengan ketegasannya di hadapan penguasa. Salah satu buktinya adalah ketika ia menolak lamaran putra khalifah Abdul Malik bin Marwan atas putrinya. Ia menolaknya karena khawatir lingkungan istana akan mengubah perilaku putrinya. Ia akhirnya lebih memilih menikahkan putrinya dengan salah seorang muridnya. Padahal dari segi materi, sang murid tidaklah sebanding dengan putra khalifah. Ia juga termasuk ulama yang sangat wara’, zuhud, dan tawadhu’. Meski sangat sibuk dalam menuntut dan menyebarkan ilmu, ia tetap meluangkan waktunya untuk bekerja. Salah satu pekerjaan yang sempat di gelutinya adalah menjual minyak di pasar.

Posisinya sebagai menantu Abu Hurairah membuatnya dengan mudah menghapal banyak hadits-hadits Rasululullah Saw. Nyaris semua hadis yang di riwayatkan oleh Abu Hurairah berhasil di hapalnya. Di samping itu ia juga banyak menimba ilmu dari sahabat lain semisal Umar bin Khattab, Utsman bin Affan dan Ali bin Abi Thalib Ra.
Said bin Musayyab lahir pada tahun 13 Hijriah. Beliau wafat di Madinah pada tahun 94 Hijriah dalm usia 81 tahun.

Urwah bin Zubair
Ia adalah putra dari Zubair bin Awwam salah seorang dari sepuluh sahabat yang di jamin masuk surga. Saudara kandung Abdullah bin Zubair ini lahir pada tahun 26 Hijriah. Ia memang tidak terlalu lama bersama ayahnya. Zubair meninggal ketika Urwah masih sangat belia. Karena itu riwayat hadis dari ayahnya sangat sedikit.
Tumbuh tanpa di damping seorang ayah tak membuat semangatnya menuntut ilmu kendur. Lewat didikan ibunya. Asma’binti Abi Bakar As-Shidiq, semangatnya terus menyala. Ketika mulai beranjak dewasa ia sudah rajin mendatangi sahabat-sahabat Rasulullah Saw.
Ke-fakih-an bibinya, Aisyah Ra, tak disia-siakan. Ia banyak menimba ilmu darinya. Beberapa dengan tabi’in yang lain, Urwah dengan mudah keluar masuk rumah Aisyah. Alhasil, waktu belajarnya jauh lebih panjang.
Di sini letak kelebihan urwah di banding Tabi’in lain. Tak mengherankan jika dalam riwayat di sebutkan bahwa para sahabat Rasulullah saw kerap bertanya kepadanya dalam beberapa permasalah fiqh.
Setiap empat hari cucu Abu Bakar Ra ini bisa mengkhatamkan Al-Quran. Salah satu aktifitas yang tak pernah di tinggalkannya adalah qiyamullail( shalat malam).
Ia wafat pada tahun 94 Hijriah.

Abu Bakar bin Abdurrahman al-Makhzumi
Ia di gelari Rahibu Quraisy Karena ibadah dan shalatnya yang sangat banyak. Ia termasuk pemuka Quraisy di zamannya yang di anugerahi ke-fakih-an terhadap agama ini. Banyak ulama kala itu yang takjub dan kagum dengan keilmuwannya.

Ia lahir di zaman kekhalifahan Umar bin Khattab. Ia banyak meriwayatkan hadits. Kedalaman ilmunya membuat penguasa Bani Umayyahh sangat menghormati dan menyeganinya. Abdul malik bin Marwan bahkan sampai berwasiat kepada Al-Walid dan Sulaiman agar sepeninggalnya selalu menghormati dan memuliakan Abu Bakar.Banyak ulama yang meriwayatkan hadis darinya. Di antaranya, Umar bin Abdul Aziz, Mujahid dan Ikrimah. Ia juga gigih menurunkan ilmunya kepada dua putranya, yaitu Abdullah dan Abdul Malik. Ia buta dan meninggal pada tahun 94 Hijriah.

Al-Qasim bin Muhammad bin Abu Bakar as-Sidiq

Ia adalah cucu dari Abu Bakar Assiddiq Ra. Menurut beberapa riwayat, sifat dan perilaku putra dari Muhammad bin Abu Bakar ini sangat mirip dengan kakeknya. Abu Bakar As-Siddiq Ra. Ia lahir pada zaman kekhalifahan Ali bin Abi Thalib Ra.
Dari sekian banyak tabi’in, ulama yang satu ini terbilang paling mengerti hadits-hadits Aisyah Ra. Salah satu penyebabnya adalah ia tumbuh di bawah  bimbingan bibinya Aisyah Ra.
Di samping meriwayatkan hadis, ia berhasil menguasai permasalahan-permasalahan fiqh. Ia juga menimba ilmu dari sahabat Rasulullah saw yang lain semisal Ibnu Abbas dan Abu Hurairah.

Banyak ulama dari kalangan tabi’in dan selainnya yang menimba ilmu darinya, seperti Salim bin Abdullah, Az-Zuhri, Rabi’aturraa’yi.
Ulama yang juga cucu Raja Persia yang terkahir ini (ibunya adalah putrid Raja Persia Terakhir) termasuk sangat hati-hati memberi fatw. Salah satuu nasehatnya yang cukup popular adalah “ Sesungguhnya merupakan bentuk penghargaan seseorang atas dirinya adalah tidak berkata sesuatu tanpa ilmu”.
Ke-tawadhu’an ini membuatnya sangat di segani oleh penguasa dan masyarakat ketika itu. Nyaris tak ada keputusan di wilayah Madinah kecuali berdasarkan pendapatnya.

Ketika khalifah Bani Umayyah khawatir peluasan Masjidil Haram akan menuai gejolak dan kontroversi, ia meminta tolong kepada Al-Qasim untuk memberikan pemahaman kepada masyarakat. Dan terbukti pembongkaran beberapa dinding masjid untuk kepentingan perluasan sedikit pun tak menimbulkan gejolak.Bahkan masyarakat gotong royong turut membantu.
Sulaiman Al-Qasim bin Muhammad meninggal pada tahun 101 Hijriah.

Ubaidillah bin Abdullah bin Utbah bin Mas’ud
Ia berasal dari kabilah Hudzail, sebuah kabilah besar yang mendiami lembah Nakhlah tak jauh dari kota Makkah. Ulama yang juga produktif menyusun syair ini banyak berinteraksi dengan sahabat Rasulullah saw. Dalam bidang hadis ia banyak meriwayatkannya dari Ibnu Abbas, Abu Hurairah, Aisyah dan lainnya.

Umar bin Abdul Aziz banyak menimba ilmu darinya. Bahkan menurut sang khalifah, mengikuti halaqah Ubaidilllah lebih ia sukai dari pada dunia dan seisinya. Pendapat dan nasehatnya sanga menggores hati. Banyak orang yang betah berlama-lama di majelisnya. Azzuhri bahkan pernah mengatakan,” Aku telah menimba ilmu dari banyak ulama hingga aku merasa ilmuku telah mencukupi. Tapi setelah aku bertemu dengannya ( Ubaidillah) seolah apa yang aku miliki tidak ada apa-apanya” Beliau meninggal pada tahun 102 Hijriah.

Kharijah bin Zaid bin Tsabit
Ia adalah putra Zaid bin Tsabit. Ia masih sempat mendapati era kekhalifahan Utsman bin Affan Ra. Di bawah bimbingan sang ayah Kharijah tumbuh dalam nuansa keilmuan yang sangat kental Boleh di kata Kharijah sukses mewarisi kefakihan ayahnya Zaid bin Tsabit. Bahkan ilmu faraidh(ilmu tentang pembagian waris) yang menjadi spesialisasi Zaid pun berhasil di kuasainya.

Keahliannya dalam ilmu faraidh tak di sia-siakan oleh penguasa di zamannya. Ia bersama Tholhah bin Abdullah mendapat amanah dalam hal pembagian warisan. Ia meninggal pada tahun 100 Hijriah dalam usia tujuh puluh tahun.

Sulaiman bin Yasar
Ia putra keturunan Persia. Panggilan istimewanya adalah Abu Ayyub. Banyak ulama yang mensejajarkannya dengan Sa’id bin Musayyab. Hal itu tak terlalu mengherankan sebab ketika ada yang datang bertanya kepada Said, ia tak segan-segan mempersilahkan untuk bertanya kepada Sulaiman bin Yassar. Bahkan dalam suatu kesempatan Ibnu Musayyab pernah berkata kepada seseorang ,”Pergilah kamu kepada Sulaiman bin Yasar sebab dialah orang yang paling alim yang masih tersisa saat ini.”

Sulaiman awalnya adalah budak dari Ummul Mukmin Maimunah. Namun kemudian ia di merdekakan. Hari-harinya banyak ia lewati dengan puasa. Ia lahir pada tahun 34 Hijriah dan wafat pada tahun 107 Hijriah.
TERIMA KASIH ATAS KUNJUNGAN SAUDARA
Judul: Tujuh Ulama yang Sering Menjadi Rujukan dalam Berfatwa
Ditulis oleh al Luky
Rating Blog 5 dari 5
Semoga artikel ini bermanfaat bagi saudara. Jika ingin mengutip, baik itu sebagian atau keseluruhan dari isi artikel ini harap menyertakan link dofollow ke http://alluky.blogspot.com/2012/12/tujuh-ulama-yang-sering-menjadi-rujukan.html. Terima kasih sudah singgah membaca artikel ini.

0 komentar:

Posting Komentar

Panduan blog dan SEO support Jual Online Baju Wanita - Original design by Bamz | Copyright of Sakura Islam.